Pengertian televisi itu sendiri dapat diartikan sebagai sebuah alat penangkap siaran bergambar. Kata televisi berasal dari kata tele dan vision, yang mempunyai arti masing-masing jauh ( tele ) dan tampak ( vision ). Jadi televisi berarti tampak atau dapat melihat dari jarak jauh. Penemuan televisi itu sendiri dapat disejajarkan dengan penemuan roda, karena penemuan ini dapat merubah peradaban dunia. televisi selalu indentik dengan kata siaran televisi, dimana menurut Surat Keputusan Menteri Penerangan Republik Indonesia Nomor : 54 / B KEP / MENPEN / 1971 Tentang penyelenggaraan Siaran Televisi di Indonesia siaran televisi berarti siaran-siaran dalam bentuk gambar dan suara yang dapat ditangkap ( dilihat dan didengarkan ) oleh umum baik dengan system pamancaran dalam gelombang-gelombang elektro-magnetik maupun lewat kabel-kabel. Jenis televisi itu sendiri ada yang yang berupa televisi analog dan televisi digital, ada juga yang disebut dengan televise kabel dan televise satelit. Televisi analog mengkodekan informasi gambar dengan memvariasikan voltase / frekuensi dari signal. Seluruh system sebelum televisi digital dapat dimasukkan ke analog. Sistem yang dipergunakan dalam televisi analog adalah NTSC (National Television System(s)) Committee, badan industri pembuat standar yang menciptakannya. Sistem ini sebagian besar diteraapkan di Amerika Serikat (AS) dan beberapa bagian Asia Timur, seperti: China/Tiongkok, Jepang, Korea Utara, Korea Selatan, Taiwan, Mongolia. Sementara, sistem PAL (Phase-Alternating Line, phase alternation by line atau untuk phase alternation line). Dalam bahasa Indonesia: garis alternasi fase), adalah sebuah encoding berwarna digunakan dalam sistem televisi broadcast, digunakan di seluruh dunia. PAL dikembangkan di Jerman oleh Walter Bruch, yang bekerja di Telefunken, dan pertama kali diperkenalkan pada 1967.
Televisi digital (bahasa Inggris: Digital Television, DTV) adalah jenis TV yang menggunakan modulasi digital dan sistem kompresi untuk menyebarluaskan video, audio, dan signal data ke pesawat televisi. Televisi resolusi tinggi atau high-definition television (HDTV), yaitu: standar televisi digital internasional yang disiarkan dalam format 16:9 (TV biasa 4:3) dan surround-sound 5.1 Dolby Digital. Ia memiliki resolusi yang jauh lebih tinggi dari standar lama. Penonton melihat gambar berkontur jelas, dengan warna-warna matang, dan depth-of-field yang lebih luas daripada biasanya. HDTV memiliki jumlah pixel hingga 5 kali standar analog PAL yang digunakan di Indonesia. Televisi kabel adalah sistem penyiaran acara televisi lewat frekuensi radio melalui serat optik atau kabel coaxial dan bukan lewat udara seperti siaran televisi biasa yang harus ditangkap antena. Selain acara televisi, acara radio FM, internet, dan telephon juga dapat disampaikan lewat kabel. Televisi satelit adalah televisi yang dipancarkan dengan cara yang mirip seperti komunikasi satelit, serta bisa disamakan dengan televisi lokal dan televisi kabel. Di banyak tempat di bumi ini, layanan televisi satelit menambah sinyal lokal yang kuno, menghasilkan jangkauan saluran dan layanan yang lebih luas, termasuk untuk layanan berbayar.
Apapun pengertian televisi maupun jenis-jenisnya, masyarakat hanya sekedar mengetahui bahwa munculnya televisi adalah sebuah teknologi atau alat komunikasi yang dapat merubah kebiasaan-kebiasaan hidup mereka. Dalam hal ini, teknologi televisi bukan sekedar sebagai proses transmisi gambar-gambar secara teknis, namun juga sebagai medium komunikasi massa yang berfungsi social. Televisi sebagai lembaga yang menyiarkan acara-acara siaran sebagai dua hal yang tak terpisahkan, yaitu televisi sebagai lembaga, sebagai medium dan siaran televisi sebagai proses komunikasi. Siaran-siaran televisi akan memanjakan orang-orang pada saat-saat luang seperti saat liburan, sehabis bekerja bahkan dalam suasana sedang bekerjapun orang-orang masih menyempatkan diri untuk menonton televisi. Suguhan acara yang variatif dan menarik membuat orang tersanjung untuk meluangkan waktunya duduk di depan televisi. Namun dibalik itu semua dengan dan tanpa disadari televisi telah memberikan banyak pengaruh negatif dalam kehidupan manusia baik anak-anak maupun orang dewasa.
Hadirnya teknologi komunikasi telah membawa perubahan yang besar bagi kehidupan. Banyak sisi positif yang dihasilkan dari hadirnya teknologi televisi sekarang ini, namun sisi negatifnya tidak sedikit juga. Televisi yang berfungsi sebagai alat hiburan, penyampai informasi, pengetahuan / pendidikan, membujuk namun juga dapat menyesatkan dan membohongi publik dengan program-program acara tertentu. Komunikasi tanpa batas telah banyak mengakibatkan pergeseran moral. Banyak teyangan televise saat ini yang sudah kehilangan fungsi. Sebagai lat komunikasi yang seharusnya memberikan manfaat positif, memberikan hiburan yang membangun akhlak namun justru melukai pemirsa baik anak-anak maupun orang dewasa.
Banyak acara televisi yang sama sekali tidak menghargai kehidupan bermasyarakat dan beragama. Banyak yang tidak lagi mengejar impian dan nilai-nilai moral tetapi sebaliknya menyerap nilai-nilai yang menyimpang dari masyarakat yang sakit. Mengajarkan orang bagaimana berbuat licik, jahat, membunuh, seni berbohong. Tayangan-tayangan yang berbau kekerasan, seksual, banyak mempengaruhi jalan pikiran pemirsa yang akibatnya adalah mereka menganggap hal itu sebagai sesuatu yang normal untuk dilakukan. Sangat disayangkan sepertinya tidak ada lembaga sensor untuk sinetron tentang tindakan yang terlihat begitu vulgar di televisi. Semua tayangan yang berbau kekerasan, setan, hantu, tidak satupun yang mendidik orang untuk lebih baik.
Gambaran diatas hanyalah sebagian contoh dari dampak negatif yang dihasilkan dari program yang ditayangkan di televisi yang berawal dari munculnya teknologi televisi itu sendiri. Televisi akan menjadi dapat berguna dan berfungsi sebagai media yang dapat memberikan manfaat yang positif bagi masyarakat, jika acara yang ditayangkan juga berpedoman terhadap nilai-nilai moral yang sesuai dalam masyarakat Indonesia. Kenyataan yang terjadi justru munculnya teknologi televisi justru digunakan sebagai alat dan ladang yang empuk untuk mencari keuntungan semata melalui program acara yang tidak bermutu dan hanya menyesatkan dan membohongi publik. Namun tidak bisa dipungkiri juga, bahwa hadirnya televisi juga telah menghipnotis pemirsa untuk bergantung terhadap televisi itu dalam memenuhi kebutuhan informasi maupun hiburan.
Manfaat positif maupun negatif akan dirasakan para penikmat media televisi jika mereka pintar-pintar memilah atau bersikap selektif terhadap program acara yang ditayangkan oleh televisi. Mengetahui seberapa besar kebutuhan yang diperoleh dari televisi itu sendiri, diketahui dari individu masing-masing, sehingga dengan hadirnya teknologi televisiu tidak hanya memberikan dampak positif semata namun juga dampak positif. Akan lebih baik lagi jika berbagai stasiun televisi yang ada di Indonesia memperhatikan kembali apakah acara yang ditayangkan itu akan banyak memberi dampak positifnya atau justru banyak dampak negatifnya.
Senin, 20 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar